Logo

0366 5501540

  • Ngiring Sareng-Sareng Membangun Desa Peninjoan ....................!!!!!!!!!!!!!!!!!!
  • ”Menjadikan Desa Peninjoan Sejahtera menuju Masyarakat Sehat, Berpendidikan dan Berbudaya “
  • Selamat Datang Di Website Resmi Desa Peninjoan
Selasa Legi
Logo

I Dewa Nyoman Tagel PA

Perbekel Desa Peninjoan

"Om Swastiastu"

Puji  Sukur Saya sampaikan Kepada Masyarakat Desa Peinjoan bahwa Desa Peninjoan telah memiliki web dan untuk bisa menerima dan masukan/saran lewat web. ini


Foto Galeri

Rapat Pembentukan TPK

LIHAT LAINNYA

Video Galeri

Contoh Video

LIHAT LAINNYA

Jajak Pendapat

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Desa Peninjoan

    Res : 4 Responden

Profil

Sejarah Desa Peninjoan



Sejarah Desa Peninjoan yang singkat ini disusun berdasarkan informasi yang didapat dan diterima dari para tokoh-tokoh Desa Peninjoan , dimana informasi yang didapat  dari para tokoh-tokoh Desa Peninjoan adalah sebagai berikut :
Di ceritakan Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan berputra empat orang, yaitu : Arga Samprangan, Raden Tarukan, seorang putri yang didak diketahui namanya, dan Dalem Ketut Ngulesir, setelah Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan mangkat pemerintahan dipegang oleh Arga Samprangan dengan gelar Dalem Ile. Dalem Ile  memerintah hanya beberapa bulan saja, karena sangat lamban dan malas. Raden Tarukan ternyata mempunyai kesukaan minum tuak yang tiada henti-hentinya. Keadaan ini menyulitkan Beliau sehingga Beliau terpaksa melarikan diri dari Samprangan menuju ke gunung masuk kedalam hutan. Oleh karena demikian adanya Kubon Kelapa seorang Patih Agung membujuk dan mendesak agar Dalem Ketut Ngulesir supaya menjadi Raja. Dalem Ketut Ngulesir belakangan mau menjadi Raja dengan Pusat Pemerintahan di Gel-Gel. Dalem Ketut Ngulesir ternyata seorang yang pandai dan bijaksana sehingga kedudukan beliau sangat kuat dan berwibawa. Beliau memerintah dari tahun 1380 sampai tahun 1460.
Dalem Tarukan yang melarikan diri dari Samprangan / Gianyar sampai pada tempat yang penuh bunga-bunga disana beliau menetap dan oleh masyarakat setempat dibuatkan asrama. Secara geneologis beliau adalah keturunan Mpu, darah Mpu menurun pada beliau, disini beliau menjadi ahli Weda dan dipuja oleh masyarakat setempat sebagai surya (Pedanda) dan meluas sampai daerah Karangasem ( Kubakal dan Nongan ) daerah Klungkung (Nyanglan Kelod) tempat tinggal beliau penuh Bunga-Bunga di sebut Pe Tarukan. Lama kelamaan ucapan Pe Tarukan berubah menjadi Penarukan, karena masalah pengucapan dan sampai saat ini dikenal dengan Banjar Penarukan.
Di sebelah barat tempat ini, sebelah utara dari beliau berpuja semadi sering beliau beristirahat lanjut, mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa dan tempat tersebut oleh Beliau disebut Pura Raja. Lama kelamaan karena masalah pengucpan berubah menjadi Puraja. Sedangkan tempat Beliau berpuja semadi disebut Las Metapa.    
Disebelah timur Puraja tempat beliau menyimapan padi (Lumbung padi)  beliau menyebutnya Uma Padi yang sekarang dikenal dengan nama Umapadi. Karunia Tuhan Yang Maha Esa sangat besar terhadap Dalem Tarukan sehingga disini beliau sadar akan potensi Mentalnya (Manik) dan mampu mendalami Weda-Weda (Aji) sehingga wilayah tempat tinggal orang-orang di Puraja disebut Manikaji. Yang sampai sekarang dikenal dengan nama Banjar Manikaji. Untuk mengetahui keadaan masyarakat setempat dan sekitarnya terhadap ajaran Weda, beliau mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat di Jaba Pura Dalem Agung Tampuagan, sedikit agak keselatan tempat tersebut oleh beliau di sebut Peninjoan yang sekarang dikenal dengan nama Banjar Peninjoan, untuk memperkuat kedudukan wilayah dan masyarakatnya diadakan Upacara-upacara di Pura Dalem Agung Tampuagan dengan mengambil pusat bekerja ditempat dimana beliau mengajarkan Weda-Weda kepada tokoh masyarakat. Untuk persatuan tokoh masyarakat setempat dan sekitarnya menyatakan kedaulatannya  dan mohon kepada Dalem Tarukan agar tempat tersebut dan sekitarnya diberikan persatuan.  
Permohonan tokoh-tokoh masyarakat tersebut diberikan restu oleh Dalem Tarukan dalam upacara yang besar di Pura Dalem Agung Tampuagan, bahwa tempat beliau mengajarkan Weda dan wilayah sekitarnya disebut Peninjoan yang selanjutnya disebut dengan nama “DESA PENINJOAN“.
Demikian sejarah singkat Desa Peninjoan untuk dapat dipergunakan sebagai gambaran dan pedoman bagi Karang Taruna Giri Kusuma Desa Peninjoan selanjutnya